Museum Perang di Ho Chi Minh City (VIetnam)

Perang dingin yang berlangsung selama 18 tahun (1957 – 1975) antara Republik Vietnam (Vietnam Selatan) – yang didukung Amerika Serikat – dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara) – yang didukung USSR dan Tiongkok – itu memang banyak dijadikan sumber insprirasi dalam dunia perfilman Amerika.

Dan jika Anda berkunjung ke Ho Chi Minh City – dahulu disebut Saigon, Anda akan bisa menemukan perang sebagai tema yang kental mewarnai sejumlah museum di kota itu. Namun perang ternyata bukan sekadar cerita getir tentang pertumpahan darah, melainkan juga kisah tentang kemerdekaan, kebebasan dan kebahagian rakyat Vietnam.

Reunification Palace. Memasuki Dinh Doc Lap atau Independence Palace di Jalan Nam Ky Khoi Nghia, Anda akan merasa seperti baru keluar dari mesin waktu dan kembali ke era ’60 dan ’70-an. Berbekal informasi singkat dalam buklet yang diberikan gratis kepada setiap pengunjung saat membeli tiket masuk, Anda bisa memasuki satu per satu ruangan-ruangan kosong yang bak ditinggalkan begitu saja oleh para penghuninya.

Seluruh furnitur, barang antik, aksesori interior, hiasan dinding dan lampu gantung kristal yang ada dalam ruang makan, ruang rekreasi, bioskop mini, perpustakaan, ruang tidur, ruang tamu, ruang kerja dan ruang lain di bangunan seluas 20.000m² itu seolah tak tersentuh waktu. Semua masih sama seperti masa sebelum kejatuhan Saigon ke tangan Vietnam Utama pada 1975, saat bangunan enam lantai itu (termasuk lantai bawah tanah) masih berfungsi sebagai istana kepresidenan Vietnam Selatan sekaligus pusat komando perang melawan Vietnam Utara. Tak heran jika di lantai bawah tanah gedung juga dilengkapi dengan ruang perlindungan dari serangan bom, ruang komando perang yang dilengkapi peta-peta besar di dindingnya, sejumlah pesawat telepon dan radio telekomunikasi

Adalah Presiden Ngo Dinh Diem yang meminta arsitek Ngo Viet Thu , pemenang penghargaan arsitektur bergengsi di Roma, untuk merancang bangunan istana tersebut pada 1962, menggantikan bangunan lama – Norodom Palace atau Indochina Governor Palace yang dibangun Prancis – yang hancur terkena serangan bom udara. Pembangungan gedung baru yang menggabungkan arsitektur modern dengan tradisional oriental itu memakan waktu tiga tahun. Sayang, baru setahun pembangunan itu berjalan, Presiden Diem keburu tewas karena insiden kudeta, dan kemudian digantikan Nguyen Van Thieu. Presiden Thieu lah yang menghuni istana itu terakhir, sebelum kabur dengan helikopter karena dua tank Vietnam Utara mendobrak pintu gerbang dan menduduki istana.

Setelah peristiwa itu, Perang Vietnam pun berakhir dan terjadi perundingan antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, yang menghasilkan kesepakatan untuk bersatu dan membentuk pemerintahan bersama, seperti yang dicita-citakan Presiden Vietnam Utara, Ho Chi Minh.Itulah sebabnya sampai sekarang Independence Palace lebih dikenal sebagai Reunification Palace.

Ho Chi Minh City Museum. Hanya beberapa blok dari Reunification Palace, tepatnya di antara Jalan Ly Tu Trong, Pasteur, Le Thanh Ton dan Nam Ky Khoi Nghia, Anda bisa tiba di museum ini.

Menempati area seluas dua hektar persegi, sebelum menjadi gedung berarsitektur Prancis ini dulu sempat beberapa kali beralih fungsi, mulai dari istana gubernur Indochina, markas besar administratif sementara, kantor komisaris tinggi Prancis, hingga tempat tinggal sementara Presiden Diem saat pembangunan Independence Palace – disebut Gia Long Palace – dan mahkamah agung. Konon Presiden Diem memerintahkan pembangunan tiga terowongan bawah tanah di tempat ini, yang terhubung dengan sejumlah bagian lain dari Saigon, seperti Cholon. Tujuannya agar dia dapat melarikan diri saat terjadi kudeta.Sayang, usaha melarikan diri dari kudeta itu gagal sehingga dia tertangkap dan dibunuh.

Di museum yang terdiri dari dua lantai ini, Anda bisa melihat perjalanan sejarah Ho Chi Minh City selama 300 tahun, dari kota pelabuhan biasa hingga menjadi kota terpadat dan terbesar di Vietnam. Ada tujuh ruangan besar dengan tema yang berbeda-beda di sana, antara lain yang terkait dengan arkeologi, sejarah pembentukan dan perkembangan, kebudayaan, industri kerajinan tangan dan tentu saja perang revolusi hingga menjadi Vietnam saat ini. Kalau Anda ingin tahu sejarah lengkap Ho Chi Minh City, museum ini harus Anda kunjungi. Informasi yang terpampang dalam bahasa Prancis, Inggris dan Vietnam pun cukup lengkap, dengan display yang menarik.Bahkan ada juga boneka-boneka yang sengaja dipajang untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Saigon, seperti upacara perkawinan lengkap dengan pakaian pengantin tradisional.

Bicara soal perkawinan, kalau Anda datang pada akhir pekan, Anda bisa juga menikmati suasana pemotretan prewedding sejumlah pasangan Vietnam yang akan menikah. Rupanya, arsitektur museum ini menjadi salah satu hot spot bagi para fotografer dan klien mereka untuk foto prewedding bergaya kolonial.

War Museum. Terletak di seberang kebun binatang Ho Chi Minh City, keberadaan museum ini tak terlalu menarik perhatian. Bahkan museum ini juga tak memiliki papan nama. Meski tidak dipungut bayaran untuk memasuki museum – tak seperti tiga museum di atas, yang menarik bayaran 10 ribu dong dan 15 ribu dong atau kurang dari satu dolar AS per orang – sangat sedikit pengunjung yang datang. Mungkin karena koleksi museum hanya berupa benda-benda yang terkait dengan perang, seperti senapan, mortir dan kamera tua yang digunakan wartawan perang Vietnam, dengan informasi yang ditulis dalam bahasa Vietnam.

Yang cukup menarik perhatian adalah patung perunggu Ho Chi Mihn sebatas dada yang berukuran besar  dengan latar belakang peta Vietnam dan peta timbul wilayah Vietnam dengan pos-pos tentara pada masa perang dingin. Kalau sekadar ingin melengkapi informasi yang sudah Anda dapatkan di museum-museum lain, boleh lah mampir sebentar ke tempat ini.  

War Remnants Museum. Kalau Anda penggila segala sesuatu yang berbau militer, museum yang berada di Jalan Vo Van Tan ini sangat menarik. Di sini Anda bisa melihat, bahkan memegang, pesawat pengebom milik angkatan udara Amerika Serikat, sisa Perang Vietnam. Pesawat tua itu masih tampak dalam kondisi bagus, dan dipampang di halaman depan gedung museum. Selain itu, ada juga rongsokan bom-bom yang dijatuhkan tentara Amerika, dan diletakkan begitu saja di beberapa sudut gedung. Sejumlah senjata yang ditinggalkan atau berhasil direbut dari tentara Amerika pun turut mewarnai museum yang terdiri dari dua lantai itu.

Sekilas, War Remnants Museum seperti ruang pamer yang didedikasikan bagi Amerika Serikat, saking banyaknya memorabilia dari tentara-tentara negara itu. Namun begitu Anda mencermati berbagai foto maupun poster yang dipampang di dinding museum dan membaca keterangan-keterangan yang menyertai, kesan itu langsung berubah.

Museum itu seolah ingin menunjukkan kepada dunia kekejaman yang dilakukan pasukan Amerika kepada rakyat Vietnam, lewat foto-foto dokumentasi hitam putih dan berwarna. Potret rakyat Vietnam, dari orang dewasa hingga anak-anak balita, yang menjadi korban ledakan bom dan ranjau darat, terjangan peluru, maupun semprotan cairan kimia beracun dari pesawat terbang yang disebut Agen Oranye, secara terbuka dipajang di setiap dinding. Bahkan ada juga kotak-kotak kaca berisi mayat bayi yang mengalami malformasi akibat Agen Oranye, dan kemudian diawetkan. Kalau Anda termasuk orang yang tak tahan melihat kekerasan, sebaiknya jangan mengunjungi museum ini.

Aura kebencian rakyat Vietnam terhadap pasukan Amerika Serikat begitu kental menyelimuti museum. Tak heran jika sejumlah review di Internet menyebut museum ini sebagai tempat yang penuh propaganda pemerintah Vietnam untuk memojokkan Amerika Serikat telah melakukan kejahatan perang di negara itu. Namun semua itu bisa menjadi pengingat kuat bahwa perang untuk alasan apa pun hanya membawa kerugian dan kesedihan, serta menimbulkan luka mendalam.

Lagipula, museum itu memberikan banyak informasi mengenai apa yang terjadi selama Perang Vietnam, dari sudut pandang rakyat Vietnam. Jadi semacam penyeimbang cerita-cerita versi Barat mengenai perang keji itu, yang selama ini Anda baca, tonton atau dengar. Setidaknya, bagi generasi muda Vietnam, War Remnants Museum juga bisa menumbuhkan semangat nasionalisme mereka.

http://www.readersdigest.co.id/travel/destinasi/museum.perang.di.ho.chi.minh.city/006/001/18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s